Sabtu, 17 Mei 2008
sebuah tulisan untukmu wahai sahabat
"...;di negeriku lelaki tak patut menitikkan air mata;aku pun pergi
ke negeri puisi;di mana kegembiraan dan kesedihan keraguan dan cinta
tak ditampik atau menampik ".
tiadanya aku tak mengurangi arti
hidup berlangsung pun tiada bagian ini
dipesta aku aku tinggal seperti
kerdip lilin dicahaya pagi
ketiadaan bukan persoalan kini
pernah ada teranggapkah mati
Jataka
di kolam kulihat bayangku berupa pohon
tua
di puncak dahan terbang adik merpati
kabar putih apa yang dibawanya dari kota
angin telah menjadi kawan dan gunung saudara
aku kekal dalam cinta
ketika air bertanya kapan kau tumbang dan
hilang dari hutan, jawabanku aku tunggu sampai
kekasih rumput sudah boleh masuk surga
tubuhku jadi wangi bau cendana
jiwa ini terluka ketika hati menyadari
bahwa hingga kini
sekuntum mawar ini belum juga mekar
oleh ketulusan dan kesungguhan seorang pujangga
lalu sampai kapan durinya akan terus melukai keutuhan cintanya
ke negeri puisi;di mana kegembiraan dan kesedihan keraguan dan cinta
tak ditampik atau menampik ".
tiadanya aku tak mengurangi arti
hidup berlangsung pun tiada bagian ini
dipesta aku aku tinggal seperti
kerdip lilin dicahaya pagi
ketiadaan bukan persoalan kini
pernah ada teranggapkah mati
Jataka
di kolam kulihat bayangku berupa pohon
tua
di puncak dahan terbang adik merpati
kabar putih apa yang dibawanya dari kota
angin telah menjadi kawan dan gunung saudara
aku kekal dalam cinta
ketika air bertanya kapan kau tumbang dan
hilang dari hutan, jawabanku aku tunggu sampai
kekasih rumput sudah boleh masuk surga
tubuhku jadi wangi bau cendana
jiwa ini terluka ketika hati menyadari
bahwa hingga kini
sekuntum mawar ini belum juga mekar
oleh ketulusan dan kesungguhan seorang pujangga
lalu sampai kapan durinya akan terus melukai keutuhan cintanya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar